Header Ads

Pamsimas di Desa Girimulyo

Di Desa Girimulyo, sebuah desa di kaki Gunung Lawu, kebersamaan da gotong royong dan sambutan hangat masih sangat kental ditemui pada kegiatan kegiatan yang bersifat sosial.

Pelaksanaan Penyediaan Air Minum dan Sanitas Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Girimulyo Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur berjalan mulus tanpa kendala. Bentuk penolakan seperti penggunaan water meter (meter air) yang merupakan syarat untuk keberlanjutan sistem pelayanan air minum, tidak terjadi di Desa Girimulyo. Sebuah desa di kaki gunung lawu yang lokasinya lebih tinggi dari Desa Tawangrejo; dimana kebersamaan, sambutan yang hangat dan masih sangat kental budaya gotong royong pada kegiatan kegiatan yang bersifat sosial.

Dengan memanfaatkan potensi sumber mata air yang berjarak 1,5 km, masyarakat Desa Girimulyo mampu menyelesaikan Program PAMSIMAS dengan rentetan panjang siklusnya.

Akumulasi kebutuhan jalur pipa distribusi sesuai perencanaan dan pelaksanaan adalah 3,520 m yang mencakup layanan Dusun Gambang dan mampu membagi dengan pemanfaat tetangga desa yaitu Dusun Randu Kuning Desa Kletekan sejumlah 8 SR.

Senada dengan hal itu, masyarakat sangat antusias berpartisipasi membangun sarana air minum yang mereka sebut dengan PDAM Desa, meskipun pada awalnya masih memiliki ketakutan bahwa suatu saat saldo BP SPAMS akan menjadi aset negara kembali yang artinya akan kembali ke kas negara.

Namun hal tersebut tidak benar (klarifikasi KKM dan BP SPAMS) karena hasil dari iuran warga yang berasal dari iuran penggunaan air minum, adalah sepenuhnya aset warga masyarakat yang bertujuan untuk usaha bersama, demi meningkatkan kondisi perekonomian warga Desa Girimulyo.

Langkah dialog dan sosialisasi yang dilakukan secara bersama inipun membuahkan hasil. Dimana warga masyarakat mampu memahami dan berkomitmen akan merawat aset yang akan terbangun dan mempercayakan sepenuhnya kepada BP SPAMS yang telah terpilih, untuk mengelola secara terstruktur dengan sistem iuran yang disepakati dan dipatuhi bersama.

Satu hal yang akan selalu dihadapi program pemberdayaan masyarakat adalah sulitnya memberdayakan masyarakat dalam keterlibatan proses perencanaan, maupun proses pelaksanaan yang dituntut adanya swadaya dalam bentuk in cash dan in kind, dimana pada sektor perekonomian yang mayoritas masih sangat memprihatinkan.

Dengan adanya kewajiban waktu dan tenaga yang harus diberikan untuk program, sudah barang tentu akan menyitanya, sedangkan pendapatan harian yang didapatkan dari pekerjaan sehari - hari adalah suatu rutinitas yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Karena hidup akan terus berlanjut dengan berbagai kebutuhannya.

Dengan adanya kepercayaan yang masyarakat berikan kepada BP SPAMS. Manajemen BP SPAMS dapat berjalan meski, masih memerlukan beberapa perbaikan terkait dengan kesepakatan penentuan tarif seting dan kebijakan dalam memberikan kontribusi, dalam bentuk honor setiap bulan kepada anggota pengelolanya.

Karena kebijakan yang disepakati bersama terlalu rendah dan sangat kurang untuk menjamin keberlanjutan sarana dan prasarana yang merupakan aset desa dan titipan anak cucu. (Gatut Windiatmoko - FK CD Kab Ngawi 2013 - 2015;Rita)

Sumber : Pamsimas.org

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.